Hukum Tahlilan Menurut Ahlussunnah Waljamaah

Tahlilan adalah semacam sedekah yang diatasnamakan untuk si ahli kubur dan diselenggarakan oleh keluarga ahli kubur. Sedangkan peserta tahlilan juga bersedekah dengan diniatkan untuk si ahli kubur. Acara tahlilan biasanya diisi dengan membacakan surat yasin, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, alfatihah, dzikir, dan doa. Tahlilan ini pada dasarnya baik, menjadi amal kebaikan, dan melapangkan si ahli kubur. Tahlilan juga merupakan sesuatu di luar kewajiban yang ditentukan Allah maupun sesuatu yang dilarang oleh Al-Quran dan hadist. Lalu, bagaimana hukum tahlilan sebenarnya? Sebagian umat islam di Indonesia menganggap amalan ini sebagai bid’ah dan sebagian yang lainnya menganggap amalan ini boleh. Untuk menjawab pertanyaan ini, simak penjelasan lengkapnya pada ulasan berikut ini.

Hukum Tahlilan Itu Boleh

Sebagian besar ulama mengatakan bahwa tahlilan itu boleh, selama niat yang ada di hati masing-masing orang itu baik, hanya untuk mendoakan ahli kubur dan karena Allah SWT. Hukum tahlilan itu boleh juga sesuai dengan pandangan Imam Syafi’i dan Imam Maliki dan beberapa Hadits Shahih.

  1. Pandangan Imam Syafi’i

Imam Syafi’i adalah imam besar yang dianut oleh sebagian besar masyarakat muslim Indonesia. Beliau mempunyai penjelasan yang logis mengenai tahlilan itu boleh. Menurut pandangan Imam Syafi’i, Tahlilah itu boleh dengan niatan untuk menghibur keluarga ahli kubur agar tidak terus-terusan meratapi kepergian si ahli kubur. Diiringi dengan bacaan alquran atau tasbih untuk menenangkan hati keluarga ahli kubur.

  1. Pandangan Imam Maliki

Melalui Ustadz Muhammad Idrus Ramli, Imam Malik Bin Annas membolehkan kenduri kematian yang selama ini telah menjadi tradisi masyarakat muslim di Indonesia. Ini berarti tahlilan hukumnya boleh, tidak makruh atau haram. Selama keluarga ahli kubur tidak merasa diberatkan atas tradisi kenduri ini, hukumnya masih tetap boleh.

  1. HR Muslim 2554

Rasullullah SAW pernah bersabda bahwa kita boleh bersedekah atas nama orang lain, termasuk orang yang telah meninggal. Dikisahkan dalam hadis tersebut, ada seorang anak yang bertanya kepada Rasullullah apakah ia boleh bersedekan atas nama Ibunya yang telah meninggal? Dan Rasullullah SAW menjabab, boleh, bersedahkahlah. Dari hadis ini, bisa disimpulkan bahwa tahlilan itu boleh.

  1. HR Muslim ( dari Abu Dzar Radliallau’anhu)

Setiap bacaan tasbih, tahlil, takbir yang diniatkan untuk ahli kubur adalah sedekah. Acara tahlilan atau yasinan sendiri hukumnya tetap boleh karena masih termasuk dalam bagian dzikir kepada Allah SWT. Selama niatnya tidak melenceng, tahlilan ataupun yasinan tetap diperbolehkan.

  1. HR Ahmad, Musli, At-Tirmidzy

Dzikir bersama yang dilakukan oleh para sahabat telah direstui oleh Rasullulah SAW. Apabila acara dzikir bersama ini dilakukan di rumah muslim yang kerabatnya meninggal (yasinan atau tahlilan), masih termasuk dalam acara dzikir bersama yang diperbolehkan oleh Agama.

Hukum Tahlilan Bukan Bid’ah

Sebagian umat Islam yang menganggap bahwa Tahlilan itu Bid’ah adalah karena tradisi ini dikaitkan dengan tradisi Hindu yang menjadi salah satu Agama yang mendominasi di Indonesia. Selama niatnya benar dan ditujukan karena Allah SWT, tahlilan atau yasinan itu hukumnya boleh. Beberapa pendapat di atas juga bisa meyakin bahwa hukum tahlilan itu memang boleh. Nah, untuk Anda yang saudaranya meninggal dan dimakamkan di  Al Azhar Memorial Garden , di rumah pun, Anda bisa menggelar acara tahlilan dengan tenang dan mantap. Artikel ini diharapkan dapat memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai perdebatan tentang tahlilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *